38/2021 ( X BOGA 4) UTS SENI BUDAYA SEMESTER GENAP 1/7 ( X BOGA 4) UTS SENI BUDAYA SEMESTER GENAP SOAL PILIHAN GANDA, PILIHLAH JAWABAN YANG TEPAT! NAMA * 1. Callysta Pramadhita KELAS / NO ABSEN * 2. X Boga 4/08 Pernyataan yang sesuai mengenai media berkarya seni adalah * (6 Points) 3. Media merupakan sarana untuk mewujudkan karya seni sebagai karya seni yang estetis Media merupakan
Candiborobudur merupakan karya seni yang tercipta berkat motivasi? - 41823105 alifalfath20 alifalfath20 21.06.2021 Seni Sekolah Dasar terjawab Candi borobudur merupakan karya seni yang tercipta berkat motivasi? A. Ekspresi B. Estetis C. Spiritual D. Ekonomi E. Komunikasi 2 Lihat jawaban Iklan Iklan rafaeruramadan rafaeruramadan Jawaban:
Candiini dibentuk oleh para penganut agama Budha pada tahun 800 Masehi. Candi ini menceritakan perjalanan hidup Sang Budha dan ajarannya. Relief pada Candi ini juga menggambarkan perkembangan masyarakat di Jawa. Candi Borobudur merupakan karya seni yang tercipta berkat motivasi spiritual yaitu motivasi para penganut agama Budha Mahayana.
JawabanBorobudur merupakan mahakarya seni rupa Buddha Indonesia, sebagai contoh puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa. Bangunan ini diilhami gagasan dharma dari India, antara lain stupa, dan mandala, tetapi dipercaya juga merupakan kelanjutan unsur lokal.
Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd. Melihat Borobudur akan lebih produktif, kalau kita memandang sebagai subjekMagelang ANTARA - Cara memandang Candi Borobudur yang tidak sekadar secara ragawi, membawa setiap orang menjadi lebih empati, produktif, dan kreatif, kata pengamat seni dari Institut Seni Indonesia ISI Yogyakarta Profesor M. Dwi Maryanto. "Melihat Borobudur akan lebih produktif, kalau kita memandang sebagai subjek, bukan sekadar objek, di mana kita bisa masuk ke dalamnya lalu kita bisa merasakan spirit. Ini cara pandang yang menjadi lebih berempati, lebih produktif, lebih kreatif," katanya dalam acara perbicangan secara daring diselenggarakan Balai Konservasi Borobudur di Magelang, Kamis. Ia mengemukakan banyak orang melukis atau memotret Candi Borobudur. Candi yang juga warisan budaya dunia dibangun sekitar abad ke-8 Masehi, masa Dinasti Syailendra itu terletak di antara Kali Elo dan Progo Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Namun, kata dia, ada cara memandang Borobudur sebagai objek atau aspek fisik yang berupa bangunan candi besar serta sebagai subjek, antara lain sumber ide, inspirasi, dan pengetahuan. "Sebenarnya, dalam memandang karya seni, kita bisa memperlakukan, melihat, memandang karya itu Borobudur, red. sebagai subjek, bukan aspek ragawi. Tetapi justru yang penting sebagai subjek, karya seni adalah sumber ide, karya seni adalah sumber inspirasi, sumber pengetahuan. Seni ini kita ganti dengan Borobudur," kata dosen Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta itu. Jika orang memandang Borobudur sebagai objek, kata dia dalam acara dipandu pengkaji BKB Panggah Ardiyansyah dengan sejumlah narasumber lainnya itu, akan terpukau oleh besarnya bangunan cagar budaya itu. Akan tetapi, katanya, jika setiap orang -termasuk seniman- memandang Borobudur sebagai subjek, akan dibawa masuk kepada berbagai aspek, seperti ilmu pengetahuan, spiritualitas, kultural, dan religiusitas. Baca juga BKB rutin lakukan pengukuran stabilitas bangunan Candi Borobudur Baca juga Penambahan kuota kunjungan di Candi Borobudur dan Prambanan bertahap Ia menyebut salah satu pelukis muda di kawasan Candi Borobudur bernama Wawan Geni yang melihat candi itu sebagai subjek. Pelukis autodidak yang kemudian berkesempatan kuliah seni rupa di ISI Yogyakarta hingga lulus itu, bukan sekadar melihat bentuk Borobudur, tetapi belajar dan menjadikannya "rumah" serta tempat mendapatkan ide dan kehidupan. Namanya Wawan Geni karena melukis Borobudur secara unik, menggunakan bara api bersumber dari obat nyamuk bakar atau rokok. "Yang digambarkan pelukis, red. bukan hanya rupa, tetap esensi, bukan aspek ragawi saja. Di sini yang penting adalah ketika melihat Borobudur, jangan hanya dari aspek wisata saja, dari aspek fisiknya saja, tetap kalau masuk lebih dalam. Itu betul-betul dahsyat," katanya. Ia mengaku akhir Juni lalu ke Borobudur di tengah pandemi COVID-19 dan mendapatkan suasana unik, yakni kesunyian candi itu karena sedikit pengunjung dan tanpa gangguan aktivitas pedagang. Dengan merasakan secara unik Borobudur, ia mengaku bisa melihat dan menafsirkan candi megah itu dari kata dengan awalan "trans", antara lain pendiri Borobudur pada masa lalu mentranspor batu-batu dari kaki Gunung Merapi ke Borobudur. Batu-batu kemudian ditransformasi menjadi sesuatu yang bernilai spiritual, estektik, dan bercita rasa. Setelah batu menjadi arca dan diletakkan dalam suatu konteks bangunan spiritual, ujarnya, ditransfigurasi menjadi nilai yang lebih tinggi, mengagumkan, dan mulia. Dengan diletakkan dalam konteks Borobudur secara keseluruhan, semua itu menjadi transendental, keluar dari kebiasaan yang normal. Pengkaji BKB Hari Setyawan mengemukakan Candi Borobudur sebagai puncak karya seni klasik Indonesia zaman Hindu-Buddha sekitar abad 8-10 Masehi. Seni rupa dan pahat Indonesia, berkembang dengan puncaknya Candi Borobudur, antara lain berupa pahatan yang proporsional dan penggambaran komponen-komponen lingkungan secara detail. "Relief, red. pohon sampai buah, daun, sampai para peneliti LIPI geleng-geleng kepala karena bisa menganalisis sampai spesies. Hewan juga bisa diidentifikasikan sampai tingkat spesies. Itu salah satu hal yang menjadi kemajuan kita," katanya. Ia mengemukakan para seniman memiliki sudut pandang lebih luas atas Borobudur, tidak sebatas fisik candi. "Ini hasil karya seni, lebih dari sekadar bangunan. Ini sesuatu hal yang menunjukkan sebuah bangsa itu sudah meningkat ke arah yang lebih maju, di mana karya seni itu sangat dihargai, dikembangkan, dan termanifestasikan dalam objek-objek yang penting bagi sebuah peradaban. Borobudur dengan seni seperti itu ada makna," katanya. Pembicara lainnya, kolektor lukisan dan pemilik Museum OHD Kota Magelang Oei Hong Djien dan Koordinator Komunitas Seniman Borobubudur Indonesia KSBI 15 yang juga pelukis serta pengelola Limanjawi Art House Borobudur Kabupaten Magelang Umar Chusaeni. Baca juga Performa "Lelakuning Urip" hidupkan kegiatan seni-budaya Borobudur Baca juga Delapan seniman Bali pamer karya di kawasan BorobudurPewarta M. Hari AtmokoEditor Zita Meirina COPYRIGHT © ANTARA 2020
Keywords Components of the Borobudur temple the art of drawing ballpoint gel pens canvas Abstract Tujuan pembuatan karya seni gambar sebagai proyek studi dengan tema Candi Borobudur ini adalah berkarya seni gambar sebanyak sembilan buah dengan mengambil subjek komponen Candi Borobudur menggunakan mediaballpoint, gelpen, dan cat akrilik pada bidang kanvas. Teknik berkarya yang digunakan penulis adalah teknik arsir silang dan acak. Teknik sapuan kuas digunakan untuk memberikan warna pada sebuah bidang gambar. Proses berkarya yang dilakukan penulis dengan tahapan 1 pencarian gambar; melakukan pencarian foto candi Borobudur di beberapa situs internet dan melakukan langsung di lokasi candi Borobudur, 2 pengolahan ide, 3 pengolahan teknis, 4 pengolahan akhir finishingmenggunakan stain water basic Mowilex, dan 5 penyajian karya. Penulis membuat sembilan karya dari komponen Candi Borobudur. Kesembilan karya tersebut berupa arca singa, dua arca Budha, kala, makara, relief Kinara-Kinari dan perahu bercadik, stupa, dan yang terakhir adalah jaladwara. Simpulan akhir dari penulis adalah proses pengolahan ide dari kecintaan penulis terhadap karya arsitektur nusantara berupa candi sehingga penulis mengangkat komponen candi ke dalam karya proyek studi yang dibuat dengan menggunakan teknik arsir dari penggunaan ballpoint dan gelpen serta pengolahan warna dengan menggunakan teknik sapuan kuas. Komponen candi yang diangkat pada karya penulis menegaskan bahwa masing-masing komponen merupakan intepretasi dari karakteristik kebudayaan nusantara pada waktu of making artwork as the image studies project with the theme of the Borobudur Temple is the art of drawing as much work to take nine subjects Borobudur components using ballpoint media , gelpen , and acrylic paint on canvas . Work techniques used are cross shading techniques and random . Brushwork techniques are used to give color to an image plane . Process of work conducted by the author with the stage 1 image search ; perform Borobudur temple photo search on several internet sites and conduct on-site, Borobudur temple , 2 processing of ideas , 3 technical processing , 4 final processing finishing using Mowilex basic water stain , and 5 the presentation of the work . authors make the work of the nine components of the Borobudur Temple . ninth work is a statue of a lion , two statues of Buddha , kala , makara , relief Kinara - Kinari and boat bercadik , stupas , and the latter is jaladwara . Conclusions end the processing of the writer is the author of the idea of love archipelago forms of temple architecture so author temple lifting components into the work study project created using the techniques of shading and gelpen ballpoint use and processing of color by using brush strokes . components temple raised on the work of the author asserts that the individual components of an interpretation of the cultural characteristics of the archipelago at that time . References Anonim. Candi Buddha Borobudur. akses 20-04-2013. Diunduh pada hari Sabtu, tanggal 20 April 2013. Ching, Francis. 2002. Drawing A Creative Process. Jakarta Erlangga. Gie, The Liang. 1976. Pengantar Estetika. Yogyakarta Yayasan Kanisius. Gollwitzer, Gerhard. 1986. Menggambar Bagi Pengembangan Bakat. Bandung ITB. Iswidayati, Sri & Triyanto. 2006. Pengantar Estetika. Semarang Unnes Press. Koentjaraningrat. 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta Aksara Baru. Moelyono. 1997. Seni Rupa Penyadaran. Yogyakarta Yayasan Bentang Budaya. Puspitasari, Dian Eka, dkk. 2010. Kearsitekturan Candi Borobudur. Magelang Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Sahman, Humar. 1993. Mengenali Dunia Seni Rupa. Semarang IKIP Semarang Press. Saripin, S. 1960. Sedjarah Kesenian Indonesia. Jakarta Pradnja Paramita. Sunaryo, Aryo. 2002. Nirmana I. Semarang Hand Out, Jurusan Seni Rupa FBS Unnes. Sunaryo, Aryo, dkk. 2008. Bentuk dan Pola Ornamen Candi-Candi Budha di Jawa Tengah. Semarang Laporan Penelitian, Jurusan Seni Rupa FBS Unnes. Tabrani, Primadi. 2005. Bahasa Rupa. Bandung Kelir.
candi borobudur merupakan karya seni yang tercipta berkat motivasi